Harga Beras Naik, Jems Tuuk Apresiasi Gubernur YSK, : 30 Tahun Petani Menantikan Harga Yang Layak

SULUT – Pengamat Pertanian sekaligus ketua LSM Peduli Petani, Peternak dan Nelayan Sulawesi Utara Ir Julius Jems Tuuk menanggapi positif kenaikan harga beras di di pasaran.

Menurutnya momentum ini sebenarnya sudah lama diharapakan para petani sawah yang selama ini menginginkan adanya peningkatan harga untuk mendapatkan keuntungan dan nilai ekonomi keluarga dari hasil produksi.

Dikatakan Tuuk selama puluhan tahun petani sawah bergelut menanam padi tetapi hasilnya tidak ada keuntungan

“Selama ini petani sawah telah bekerja keras tetapi hasil keuntungan tidak seberapa rata- rata berkisar di angka 5 sampai Rp.6 juta tidak sebanding dengan ongkos perawatan atau biaya produksi yang dikeluarkan petani bila mengacu harga sebelumnya Rp 8000/kg. Kalau dihitung biaya produksi hasilnya tidak ada, tidak balik modal apalagi kalau tanaman diserang hama. Namun hari ini petani bersyukur dengan kenaikan harga beras di angka 13 sampai Rp.14 ribu/kilo, artinya ada kenaikan sekitar 150 persen ” terang Tuuk  Selasa (15/7/25)

Mantan anggota DPRD Sulut dikenal getol membela kepentingan petani di lembaga legislatif justru mempertanyakan motif sejumlah masyarakat yang mengeluhkan naiknya harga beras di pasaran.

“Selama ini mereka para petani menanam padi hanya mendapatkan keuntungan sedikit akibat harga beras murah tetapi mereka hanya diam, giliran harga beras mengalami kenaikan ada masyarakat marah mengeluh harga beras mahal, orang-orang yang komplain ini otaknya ada dimana, orang yang komplain ini apakah pernah merasakan jadi petani sawah, “tukasnya.

Apalagi lanjut Tuuk ketertarikan anak muda mengolah lahan sawah di Sulawesi Utara hampir dikatakan tidak ada karena memang keuntungan dari hasil pertanian padi tidak ada.

” Ada berapa banyak millenial di sawah, tidak ada. Kita ambil contoh di Tondano ada berapa banyak sawah yang ditanami padi karena menanam padi itu tidak ada untung. Mungkin lebih baik mereka tanam Nilam karena kalau dibandingkan hasil satu hektar padi dan satu hektar Nilam kalau diurus dengan baik berkisar Rp.20 juta setahun untuk tanaman padi, sedangkan Nilam kalau dia dirawat dengan baik hasilnya dalam satu tahun paling tidak Rp.100 juta, terus kita pilih mana, pasti Nilam karena hanya orang gila yang tanam padi karena apa? untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ”

Dengan demikian lanjut Tuuk, adanya kenaikan harga beras saat ini petani bisa merasakan keuntungan sekaligus berharap masyarakat kembali mengolah lahan sawah yang selama ini terabaikan

“Jadi kalau ada wakil rakyat yang mengecam pemerintah tidak bekerja, tidak bisa, tidak seperti itu, Pemerintah justru sangat berpihak kepada para petani kita”

“Saya mewakili petani menyampaikan terima kasih kepada bapak Presiden Prabowo dan Gubernur Sulawesi Utara pak Yulius Selvanus (YSK) karena dengan adanya kenaikan harga beras dapat mensejahterakan kami petani karena hampir 30 tahun tema-teman petani sawah menderita, “tutupnya. (tem)