Legislator Sulut Henry Walukow Curigai Pengadaan Alkes RS Prof Kandow Tidak Sesuai Prosedur Teknis Administrasi

Foto : Anggota DPRD Sulut Henry Walukow

SULUT – Anggota Komisi I DPRD Sulut Henry Walukow mempertanyakan proses pengadaan alat medis di RS Kandow yang diduga tidak sesuai Standard Operating Procedure (SOP).

Pasalnya sejumlah kasus yang merugikan pasien mulai mencuat akibat ketidaksiapan pihak rumah sakit dalam mengantisipasi kerusakan peralatan medis yang digunakan untuk tindakan operasi.

Walukow mencurigai ada sesuatu tidak beres dalam  prosedur teknis pengadaan alat kesehatan di rumah sakit terbesar di Indonesia Timur yang seharusnya dilakukan sesuai mekanisme.

Hal ini terungkap dalam penjelasan management rumah sakit dihadapan lintas komisi DPRD Sulut yang tidak menjelaskan secara detail proses pengajuan dalam pengadaan alat medis ataupun mengganti alat medis yang rusak dalam kasus Gabriel Sineleyan pasien tumor otak yang tidak tertolong akibat rusaknya alat medis untuk tindakan operasi.

“Apakah dalam rekomendasi dalam catatan administrasi ini apakah bapak melayangkan permohonan perbaikan dan permintaan peninjauan, sekaligus saya juga mempertanyakan alat – alat kesehatan yang urgen yang dibutuhkan pasien termasuk alat Magnetic Resonance Imaging atau MRI.” kata Walukow dihadapan jajaran direksi Rumah Sakit Prof Kandow yang dihadiri Direktur Medik, Keperawatan dan Penunjang dr Jehezkiel Panjaitan SH MARS, Direktur Layanan Operasional dr Wega Sukanto SpB-TKV (K), Direktur SDM, Pendidikan dan Pelatihan Ns Suwandi I Luneto SKep MKes, Direktur Perencanaan, Keuangan dan BMN Erwin Sondang Siagian serta Manager Hukum serta Humas RSUP Kandou, Ruslianto Urendeng, S.H.

Sebagai wakil rakyat lanjut Walukow dirinya juga mengungkapkan banyak menerima aspirasi masyarakat terkait pelayanan kesehatan yang tidak maksimal dari rumah sakit Prof Kandow.

“Saya juga mendapatkan informasi dari salah satu pasien namanya Imelda Lombogia yang terindikasi diagnosa kanker kandungan dan dilakukan MRI dulu sebelum dilakukan tindakan operasi, ketika pasien minta penjadwalan MRI mereka menjadwalkan tanggal 24 Juli sedangkan tindakan operasinya hari ini, apakah antriannya seperti itu, apakah kondisi alat yang dimaksud harus menunggu satu bulan baru dapat pelayanan sedangkan kondisi pasien saat ini koma”,

“Ini kan kasus terjadi lagi seperti ini, apakah alat ini hanya bisa melayani lima pasien dalam satu hari ini, kondisi ini sangat memprihatinkan selain management kondisi peralatan rumah sakit harus segera dievaluasi, ” bener Walukow.

Anggota Fraksi Demokrat ini juga merasa merasa perlu menyampaikan hal tersebut agar supaya masyarakat mengetahui bagaimana kondisi peralatan kesehatan yang ada di rumah sakit tersebut.

“Masyarakat juga perlu mengetahui dan berhak mendapat penjelasan kondisi yang ada di Rumah Sakit Prof Kandow, ” tandas Walukow. (tem)