Sektor Pertanian Sulut Dihantam El Niño, Gubernur Yulius Titip 4 Peran Strategis ke Penyuluh Untuk Memperkuat Program Ketahanan Pangan

Gubernur Yulius Selvanus Bersama Direktur Wilayah BRMP Sulut Dr. Steivie Karouw, STP, M.Sc

MANADO — Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, menegaskan pentingnya peran penyuluh pertanian dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan serta ancaman krisis iklim. Hal tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pembangunan Pertanian dan Apel Siaga Penyuluh Pertanian se-Sulawesi Utara di Aula Mapalus Kantor Gubernur, Kamis (20/8/2026).

Di hadapan para kepala daerah, pimpinan instansi vertikal, dan ribuan penyuluh, Gubernur menyoroti dua fokus utama pembangunan pertanian saat ini yakni transformasi peran penyuluh di era modern serta langkah tanggap darurat menghadapi fenomena El Niño ekstrem.

Gubernur juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada para penyuluh yang menjadi garda terdepan sektor pertanian. Ia meminta penyuluh untuk tidak lagi menjalankan metode konvensional, melainkan bertransformasi melalui empat peran utama yakni;

1. Penggerak Inovasi: Memperkenalkan teknologi modern seperti drone semprot, alsintan, dan pupuk organik.

2. Pendamping Hilirisasi: Mengawal kelompok tani tidak hanya sampai masa panen, tetapi hingga tahap pemasaran produk.

3. Penjaga Data: Menjadi mata dan telinga pemerintah dengan melaporkan data secara real-time terkait luas tanam, puso, harga, hingga kendala di lapangan.

4. Pemersatu: Merangkul seluruh elemen petani, termasuk petani milenial dan perempuan tani, serta memperkuat Gapoktan menjadi korporasi yang berdaya tawar tinggi.

Dalam arahannya, Gubernur juga memberikan perhatian serius terhadap fenomena El Niño ekstrem yang melanda Sulawesi Utara sejak akhir Mei hingga Agustus 2026. Kekeringan meteorologis parah ini menyebabkan Hari Tanpa Hujan (HTH) yang panjang di 8 daerah dan memicu krisis multi-sektor yng meliputi

Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): Suhu tinggi dan lahan kering memicu titik api baru yang menghanguskan puluhan hektare vegetasi.

Krisis Air Bersih: Sumber air baku dan sumur warga menyusut drastis, mengganggu kebutuhan domestik harian.

Gagal Panen Massal: Sektor pertanian lumpuh akibat sawah dan ladang kehilangan pasokan irigasi total.

Lonjakan Kasus ISPA: Debu dan asap kebakaran lahan memicu gangguan pernapasan akut di masyarakat.

Inflasi Sektor Ekonomi: Kelangkaan pangan lokal di pasar memicu lonjakan harga barang pokok secara signifikan.

Untuk mengatasi hal tersebut, Gubernur menginstruksikan percepatan langkah antisipasi melalui pemetaan wilayah rawan, optimalisasi pengelolaan air, penggunaan varietas tahan kekeringan, pengaturan pola tanam, serta penguatan sinergi lintas instansi.

Gubernur menegaskan bahwa paradigma pertanian harus diubah—bukan sekadar urusan produksi, melainkan fondasi ketahanan pangan, pengendali inflasi, pengentasan kemiskinan, dan masa depan daerah.

Gubernur berharap melalui Rakerda ini, lahir program konkret yang memastikan kesejahteraan petani dan terwujudnya swasembada pangan yang berkelanjutan di Sulawesi Utara.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh para Bupati/Walikota se-Sulawesi Utara, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulut, Direktur Wilayah BRMP Sulut, Kepala BWS Sulawesi I, Kepala Perum Bulog Kanwil Sulutgo, Kepala BPS Sulut, serta Kepala OPD terkait. (tem)