Foto : Pengamat Politik dan Pemerintahan Taufik Tumbelaka
MANADO – Penunjukan Tahlis Gallang, S.IP, MM, sebagai Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Sulawesi Utara bukan sekadar pengisian jabatan struktural biasa. Posisi ini dinilai sebagai ujian pembuktian bagi kualitas lulusan “Sekolah Pamong Praja” dalam menakhodai birokrasi di level tertinggi daerah.
Pengamat politik dan pemerintahan, Taufik Tumbelaka, menyebut pencapaian Tahlis sebagai torehan tertinggi bagi seorang birokrat. Namun, di balik kursi panas tersebut, terbentang tanggung jawab besar sebagai “Panglima Birokrasi” Sulawesi Utara.
Menurut Tumbelaka, peran Sekprov sangat krusial karena bertindak sebagai jembatan antara kebijakan Gubernur dengan jajaran birokrasi di bawahnya. Tugas ini diprediksi akan semakin berat mengingat dinamika sosial-politik dan kondisi ekonomi yang penuh tantangan.
“Tahlis harus memastikan seluruh rencana kerja Pemprov Sulut berjalan presisi. Ini tugas berat, terlebih dalam situasi sosial-ekonomi yang kurang menguntungkan saat ini,” ujar jebolan Universitas Gadjah Mada tersebut.
Satu hal yang menarik perhatian adalah latar belakang pendidikan Tahlis. Tercatat dalam dua dekade terakhir, posisi Sekprov Sulut selalu diisi oleh figur dengan latar belakang pendidikan yang beragam. Tahlis Gallang mencetak sejarah sebagai alumni murni pendidikan kedinasan pamong praja pertama yang menduduki jabatan tersebut di Sulut dalam kurun waktu tersebut.
IPDN, tempat Tahlis ditempa, dikenal sebagai “kawah candradimuka” bagi mereka yang mendedikasikan diri menjadi abdi negara. Keberhasilan Tahlis di kursi Sekprov akan menjadi parameter keberhasilan sistem pendidikan khusus tersebut.
Terhitung mulai 4 Mei 2026, Tahlis Gallang resmi memikul ekspektasi publik. Kehandalan dan ketangguhannya sebagai “Sang Panglima” akan diuji untuk membuktikan bahwa kebijakan nasional melahirkan pamong praja melalui pendidikan khusus memang relevan dengan kebutuhan organisasi pemerintah daerah.
Tantangan utamanya adalah menghadirkan tata kelola pemerintahan yang tidak hanya efisien, tetapi juga bersih dan berwibawa. Dengan bekal pengalaman tiga kali menjabat Sekda di tingkat Kabupaten/Kota, publik kini menanti sentuhan tangan dingin Tahlis Gallang dalam membawa birokrasi Sulawesi Utara ke level yang lebih tinggi. (*)
